Belajar Mendidik Anak dari Film ‘Sabtu Bersama Bapak’

Sudahkah anda menonton film ‘Sabtu Bersama Bapak?’. Ada yang sudah dan tentu ada juga yang belum. Film yang diadaptasi dari novel karya Adhitya Mulya dengan judul yang sama ini memang tidak se-hits film-film lain (seperti AADC, dll) di jajaran layar lebar Indonesia.  undercover.co.id Tapi Adhitya membubuhkan banyak sekali nilai dalam ceritanya. Terlebih dalam hal mendidik anak. Ada yang mengatakan bahwa anak itu ibarat kertas kosong, mau dilukis seperti apa itu adalah kehendak orang tuanya.

Ceritanya dimulai dari kekhwatiran seorang Bapak yang hidupya sudah tidak lama lagi. Tentu, dalam pertumbuhan seorang anak ia butuh (sangat) didikan Ayahnya. Akhirnya muncullah inisiatif untuk membuat video yang boleh diputar ketika hari Sabtu, karena hari-hari biasa mereka harus belajar untuk sekolahnya.

Sabtu Bersama Bapak

Jangan Biarkan Kematian Menjauhkan

“I don’t let death take these, away form us. I don’t give death a chance” Mari bermain, belajar, Bapak ada disini, bersama kalian, Bapak sayang kalian” kata sang Bapak.

Pada video pertama, https://www.bisnisumkmonline.com/ sang Bapak menyapa hangat kedua anakna melalui video. Ia katakan bahwa dia hanya pindah tempat, tidak sakit atau bahkan mati. Sang  Bapak ingin anak-anaknya tumbuh dan sang Bapak tetap mendampingi.

Ia ingin dapat  tetap bercerita kepada anak-anaknya, mendidik mereka,dan ia telah mempersiapkan ketika mereka mempunyai pertanyaan tidak usah bingung mencari jawaban, di video itu mereka bisa menemukan semuanya.

Benar bahwa manusia mana yang tahu dirinya akan mati, tapi tidak dipungkiri bahwa semua orang juga akan mati. Jadi, seperti sang Bapak dalam film itu, persiapkan semua dengan baik untuk buah hati yang kita cintai.

Video Ke-18, Planning Is Everything

Di usia yang sudah menginjak kepala tiga, si bungsu sudah cukup matang daam segi finansial. Pekerjaannya bagus, umurnya cukup, bahkan ia baru saja membeli rumah yang cukup elit dari hasil kerja kerasnya sendiri. Sayang sekali ia masih belum mau menikah.

Ibunya yang juga sudah tua mulai khawatir, dan mencoba mmberikan tawaran kepada si bungsu untuk menjodohkannya dengan seorang wanita anak dari temannya. Tapi lagi-lagi ditolaknya. Hal itu menimbulkan sebuah tanda tanya besar bagi sang Ibu, ada apa dengan anaknya. Suatu ketika ia memiliki kesempatan untuk menanyakan hal tersebut, dan si Bungsu menjawab bahwa rumah adalah prepare terkhir.

Berdasarkan didikan dari Ayahnya, seseorang yang sudah siap menjadi seorang suami atau seorang Bapak harus matang dalam segala hal (usia, finansial, dll), supaya ketika anak-anaknya lahir tidak kelabakan sehingga massa depan keluarganya menjadi lebih jelas.

Video ke-18, Bapak mereka mengatakan dalam video ke-18 bahwa planning is everything. Itulah yang kemudian diterapkan oleh anak-anaknya sebelum mereka menjadi seorang Bapak kelak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *